Abstrak
Indonesia memiliki cadangan dan produksi nikel terbesar di dunia, menjadikan komoditas ini sebagai aset strategis dalam mendukung transisi energi global dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, di balik besarnya potensi tersebut, berbagai persoalan tata kelola masih menjadi tantangan, mulai dari belum optimalnya penerimaan negara, lemahnya pengawasan, dominasi investasi asing, hingga dampak sosial dan lingkungan yang menyertai kebijakan hilirisasi.
Melalui artikel ini, Agus Sulistiyo mengulas sejauh mana tata kelola sektor nikel di Indonesia telah berjalan secara kredibel. Artikel ini menyoroti kesenjangan antara potensi dan realisasi penerimaan negara, mengkritisi implementasi kebijakan hilirisasi, serta menawarkan sejumlah rekomendasi untuk memperkuat tata kelola melalui perbaikan kebijakan fiskal, penguatan kelembagaan, integrasi data, dan peningkatan pengawasan. Dengan tata kelola yang lebih transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan nasional, kekayaan nikel Indonesia diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat.